GLOBALISASI EKONOMI ABAD-21: SEBUAH KRITIK TERHADAP MARXISME

Luke Pramudita

Abstraksi
Memandang Marxisme sebagai sebuah ideologi dalam dunia ekonomi-politik internasional adalah suatu keharusan mengingat pemikiran Marx yang sempat mencuat dalam periode pasca Perang Dunia I dan Perang Dingin. Dalam dua masa ini ideologi Marxis muncul dan dikenal setelah berdirinya negara-negara berhaluan sosialis-komunis di kawasan Eropa. Marxis kemudian diidentikkan dengan sosialis komunis. Namun setelah runtuhnya kekuatan Uni Soviet pasca Perang Dingin satu persatu tahta sosialis-komunis dunia runtuh seiring masuknya dunia ke dalam sistem unipolar yang dipimpin Amerika Serikat dengan pemikiran liberalnya. Dalam fase ini penetrasi pemikiran liberal masuk kedalam ideologi dunia dan berkembang dalam aspek ekonomi yang bermuatan kapitalis. Sekarang ini dunia tengah masuk ke dalam fase multipolar dimana seluruh dunia memandang fase ini sebagai globalisasi. Kapitalisme liberal yang muncul pada fase sebelumnya turut diusung dalam fase ini dan sistem kapitalisme dunia semakin berjaya. Konsep Marx pun dipertanyakan, “Bagaimana dengan konsep masyarakat dunia yang sosialis?”

Pendahuluan
Berbicara mengenai Marxisme alam pikiran kita akan langsung dibawa kepada negara-negara berhaluan sosialis-komunis seperti Cina, Korea Utara, Vietnam, Kuba, negara-negara eks Uni Soviet (yang kemudian pecah menjadi 14 negara republik), dan eks Jerman Timur. Paradigma ini telah tersusun begitu kuat hingga kita akan selalu berpikir bahwa Marxis adalah paham mengenai sosialis-komunis. Apakah memang benar realitanya demikian?

Ideologi Marxis tidak disangkal lagi memang sangat berkaitan dengan paradigma sosialis-komunis, akan tetapi Marxisme bukanlah paham yang 100% sosialis-komunis seperti yang kita bayangkan. Ada sebuah pencampuradukan makna yang seringkali membuat kerancuan antara pengertian Marxisme yang sebenarnya dengan paham sosialis-komunis. Menurut Franz Magnis Suseno istilah ’Marxisme’ tidak sama dengan ’komunisme’. Komunisme (dalam hal ini komunisme internasional) adalah gerakan dan kekuatan politik partai-partai komunis yang menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional di bawah pimpinan W.I.Lenin. Ajaran komunis Lenin ini merupakan ideologi resmi komunisme dunia (selanjutnya disebut ideologi Marxisme-Leninisme) dan Marxisme hanyalah salah satu komponen dalam komunisme yang dikenal selama ini (Suseno, 1999). Kaum komunis memang selalu mengklaim interpretasi atas ajaran Marx sebagai ideologi mereka agar dipandang sebagai pewaris sah ajaran Marx ini. Istilah komunisme sendiri sebelum disahkan oleh Lenin sebagai paham komunisnya ternyata telah ada di dalam masyarakat jauh sebelum digaungkan oleh Lenin. Komunisme merupakan suatu cita-cita utopis masyarakat dimana segala hak milik pribadi dihapus dan semuanya dimiliki bersama.

Jadi seperti apakah sebenarnya Marxisme itu? Secara praktis dan ringkas pemikiran Karl Marx sebenarnya muncul dikarenakan adanya eksploitasi dari kaum borjuis terhadap kaum proletar dalam suatu proses produksi sebagai akibat dari adanya sistem kapitalisme (Woodfin, 2008). Sistem kapitalisme awal yang dimaksud disini adalah kapitalisme pada masa setelah revolusi industri berlangsung (yang menandai berakhirnya sistem feodal) dimana dipergunakan teknologi dalam industri yang menyebabkan peran buruh menjadi kurang. Pihak borjuis yang menguasai sarana produksi dapat dengan mudahnya mendapatkan penghasilan karena bisa melakukan proses produksi. Sebaliknya kaum proletar (para buruh) yang pendapatannya tergantung dengan kaum borjuis semakin terpojok akibat kapitalisme yang menggantikan posisi mereka dengan teknologi baru (Pozzolini, 2006). Berawal dari sinilah terjadilah antagonisme kelas antara kaum borjuis dan proletar. Puncak dari antagonisme ini adalah revolusi yang menghasilkan persamaan kedudukan antara kaum borjuis dan proletar (Woodfin, 2008).

Satu hal yang bisa digarisbawahi dari penjelasan sedikit ini adalah Marx menolak secara tegas adanya ketidakseimbangan kelas antara proletar dan borjuis dan menghendaki adanya revolusi proletariat. Inilah tugas yang seharusnya dilakukan oleh kaum proletar untuk mendapatkan kesetaraan dan haknya kembali yakni menggulingkan kapitalisme dengan menggebrak kaum borjuis (Pozzolini, 2008). Dengan adanya revolusi maka kesetaraan akan didapatkan kembali dan utopianisme untuk membuat masyarakat dunia yang sosialis akan terbantahkan. Dunia yang dicita-citakan dimana hak milik pribadi dihapuskan dan menjadi hak bersama bukanlah hal yang mustahil (Suseno, 1999). Hal ini pun akan semakin membuktikan bahwa pemikiran Karl Marx bukan hanya bersifat fisafati namun sangat ilmiah (sosiologis) dan dapat diaplikasikan.
Namun demikian sepertinya utopianisme itu benar-benar terjadi, terbukti dengan runtuhnya rezim komunis terbesar di dunia yakni bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991 setelah partai komunis gagal mendapatkan suara dalam pemerintahan (Suseno, 1999). Berakhirnya Perang Dingin antara blok Barat (Amerika Serikat) dan Timur (USSR) yang kemudian dimenangkan oleh Amerika Serikat memicu dunia untuk meniru sistem politik dan ekonomi yang dianutnya. Nilai-nilai liberal mengenai demokrasi dan individualisme kembali mencuat ke permukaan dan kapitalisme mucul dengan wajah baru, globalisasi (Gilpin, 2000). Era pasar bebas ini menuntut setiap negara untuk berjuang memperdagangkan keunggulan komoditas negaranya ke pasar internasional. Kemajuan teknologi dalam bidang informasi terutama semakin memacu percepatan denyut nadi globalisasi.

Melihat kenyataan ini maka akan secara jelas kita pertanyaan, ”Mengapa hipotesis marxisme terhadap runtuhnya kapitalisme di kemudian hari tidak terbukti?” Sebelum menjawab pertanyaan ini penulis akan menjelaskan pembahasan ini ke dalam 3 pembahasan yakni pembahasan mengenai pemikiran Karl Marx terhadap Marxisme, pembehasan mengenai globalisasi, serta pembahasan mengenai ketidakrelevansian Marxisme dalam era globalisasi.

Riwayat Hidup dan Pemikiran Karl Marx mengenai Marxisme
Berikut ini akan penulis kutipkan riwayat hidup dan pemikiran Karl Marx mengenai Marxisme yang penulis ambil dari buku ’Pemikiran Karl Marx, dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme’ yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno (dengan editing di beberapa kalimat tentunya). Tujuan penulis mencantumkan riwayat hidup dan peta pemikiran Karl Marx adalah untuk memahami konsep filosofi pemikiran Marx yang utama. Selanjutnya akan penulis ringkas kembali dalam beerapa poin penting.

Karl Marx lahir pada tahun 1818 di kota Trier, Prussia (sekarang Jerman Barat). Ayahnya adalah seorang pengacara Yahudi. Pendidikan dasar dan menengahnya ditempuh di gymnasium (semacam sekolah setingkat SD-SMA) hingga lulus. Dari gymnasium ayah Marx menginginkan Marx belajar hukum untuk melanjutkan profesinya sebagai notaris, namun Marx tidak berminat dan justru pindah ke Berlin untuk belajar Filsafat.
Filsafat di Berlin sangat dipengaruhi oleh pemikiran Hegel, seorang filusuf politik yang menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai nilai tertinggi. Marx muda sangat tertarik dengan filsafat Hegel dan dari filsafat Hegel inilah ia mengajukan sebuah pertanyaan (yang berkaitan dengan kondisi reaksioner Prussiaterhadap masyarakatnya) yang selanjutnya akan menjadi dasar teori Marxisnya yakni, ”bagaimana membebaskan manusia dari penindasan sistem politik reaksioner (Prussia)?” Saat itu Marx tergabung dalam suatu kelompok bernama Klub Para Doktor dan menjadi kaum Hegelian-muda yang sangat mengkritisi pemerintah Prussia. Yang unik dari statusnya sebagai penganut Hegelian-muda adalah ia sendiri oposisi terhadap filsafat Hegel sebab Hegel diklaim sebagai teolog Protestan yang mendukung Prussia dan Marx tidak setuju akan hal ini. Oleh karena itu Marx disebut juga sebagai Hegelian Kiri.

Berstatus sebagai seorang Hegelian kiri pemikiran Marx terus mencoba menggali filsafat Hegel dan menemukan sebuah ketidakkonsistenan pada kondisi masyarakat Prussia yang berada dibawah tekanan pemerintah dengan kondisi masyarakat Prussia yang digambarkan sebagai masyarakat rasional dan bebas oleh Hegel Pemikiran ini terus berkecamuk dalam pikiran Marx hingga akhirnya ia menemukan teori Feuerbach yang mengungkapkan bahwa ciri reaksioner negara Prussia adalah suatu ungkapan sebuah keterasingan manusia dari dirinya sendiri.
Pindah ke Paris Marx kembali menelusuri pertanyaannya tadi dengan pertanyaan dimanakah Marx bisa menemukan keterasingan itu. Dari interaksinya dengan beberapa tokoh sosialis seperti Proudhon dan Friederich Engels ia menemukan jawaban bahwa keterasingan berlangsung dalam proses pekerjaan manusia, dan pekerjaan akan menjadi identitas manusia. Namun sistem hak milik pribadi kapitalis yang sarat eksploitasi justru membuat manusia mengasingkan diri.

Mengerti akan hal ini Marx kemudian semakin memusatkan perhatian kepada syarat-syarat penghapusan hak milik pribadi. Ia mengklaim bahwa konsep sosialisme yang dimilikinya adalah sosialisme ilmiah yangtidak hanya didorong oleh cita-cita moral, melainkan berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat. Dari sinilah pendekatan Marx akhirnya berubah dari yang bersifat filosofis menjadi semakin sosiologis. Sosialisme dipandang sebagai paham sejarah yang materialistik yang mana dimengerti sebagai dialektika antara perkembangan bidang ekonomi dengan struktur kelas sosial.

Dari pemahaman tersebut Marx berpendapat bahwa faktor yang menentukan sejarah bukanlah politik atau ideologi melainkan ekonomi. Perkembangan dalam cara produksi lama-kelamaan akan membuat struktur hak milik lama menjadi hambatan kemajuan. Dalam situasi ini akantimbul revolusi sosial yang melahirkan bentuk masyarakat yang lebih tinggi.

Sebagai kesimpulan dari pemikirannya, Marx menjelaskan bahwa kapitalisme tidak akan pernah berjaya karena akan timbul revolusi buruh yang akan menghapus hak milik pribadi atas alat-alat produksi dan mewujudkan masyarakat sosialis tanpa kelas Inilah yang selanjutnya disebut sebagai paham Marxisme oleh pengikutnya (Marx sendiri tidak pernah berkata bahwa pendapatnya ini adalah sebuah teori atau paham, bahkan ia sendiri mengelak untuk disebut sebagai seorang Marxis).

Berdasarkan pemikiran filosofis Karl Marx di atas penulis dapat memberikan beberapa poin penting:
1.Marxisme memiliki tiga akar utama yakni dasar filsafat Hegel yang gagasan utamanya dibalik (menghasilkan teori dialektika materialisme), teori ekonomi-politik yakni Teori Nilai Lebih dan Teori Nilai Tenaga Kerja, dan yang keiga adalah teori evolusi.
a.Teori Dialektika
”Situasi dan kondisi yang ada di dunia ini menciptakan ide-ide kita, bukan sebaliknya (Woodfin, 2008). Sehingga jika dikaitkan dengan sejarah: sejarah terjadi dari situasi dan perkembangan alam manusia”
Teori ini menguatkan posisi Marxisme sebagai teori yang ilmiah.
b.Teori Ekonomi Politik
1.Teori Nilai Lebih
 waktu tambahan diluar kontrak kerja yang dipaksakan untuk dilakukan oleh tenaga kerja demi perusahaan akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Semakin banyak waktu yang dipaksakan keuntungan produksi akan semakin banyak (berujung pada eksploitasi buruh)
2.Teori Nilai Tenaga Kerja (Teori David Ricardo)
teori ini berpendapat bahwa untuk menaikkan harga komoditas hasil produksi, suatu pekerja harus ditempatkan di situ sebab variable cost suatu komoditas akan dihitung berdasarkan jam kerja dan jumlah pekerja yang turut serta (bukan hanya mesin saja). Penggunaan mesin saja akan menurunkan nilai barang (kapitalisme membawa keuntungan dengan hadirnya tehnologi tetapi tehnologi tanpa campur tangan manusia juga dapat menurunkan nilai komoditas)
c.Teori Revolusi
Akibat dari subtitusi peran buruh dalam proses produksi oleh teknologi gaji buruh menjadi lebih rendah. Di sisi lain harga komoditas semakin melangit akibat proses produksi yang memadukan teknologi dan tenaga buruh sehingga tidak bisa dijangkau oleh buruh. Dua kondisi ini mau tidak mau akan menimbulkan reaksi keras dari masyarakat dan membuat kehancuran sistem kapitalis. Kesadaran kelas ini disebut dengan ’kesadaran dari keterasingan diri’

2.Terdapat pertentangan kelas antara borjuis dengan proletar
Marx dalam salah satu kutipannya menyatakan bahwa pada dasarnya sejarah dari seluruh perjuangan masyarakat adalah perjuangan kelas, dan inilah yang diperjuangkan oleh kelas proletar dalam sebuah revolusi.
Pada dasarnya manusia bukan makhluk yang egois. Timbulnya kelas dikarenakan adanya perubahan kekuatan produksi yang mendorong terjadinya perubahan dalam hubungan produksi. Beberapa orang yang bisa mendapatkan kontrol terhadap kekuatan produksi akan dapat menggunakan tenaga orang lain sehingga mereka tidak perlu bekerja. Inilah yang membentuk kelas borjuis. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan kekuatan produksi harus bekerja untuk bertahan hidup (Moodfin, 2008).

Analogi dari gambaran kelas borju adalah sebagai berikut: kelas borjuis memiliki kekuatan produksi -> diolah sehingga menjadi komoditas ->keuntungan. Sedangkan untuk kaum proletar analoginya adalah : komoditas yang berupa tenaga untuk bekerja ->mendapat upah kerja ->membeli komoditas. Dapat dilihat pada uraian di sini bahwa konsep pertentangan kelas terjadi tidak bersangkut-paut dengan sikap hati atau moralitas warga kelas (misal: bahwa proletar akan tertindas gara-gara sentimen warga borjuis) tersebut namun perbedaan kepentingan yang tidak dapat disatukan antara keduanya (Suseno,1999).

Kaum borjuis karena menguasai sistem produksi dia berupaya untuk mendapatkan keuntungan dengan cara memainkan instrumen produksinya yang kemudian akan menghasilkan barang berikut keuntungannya. Cara untuk mendapat keuntungan adalah dengan menekan biaya kerja buruh agar mereka bisa tetap bisa bersaig di pasar bebas. Sebaliknya karena kaum proletar tidak menguasai instrumen usaha hal yang harus mereka lakukan adalah bekerja, bekerja, dan bekerja untuk mendapatkan upah yang besar. Mereka bisa saja meminta untuk mengurangi jam kerja, namun karena posisi mereka telah disubstitusikan dengan kehadiram mesin industri mereka tidak bisa bergerak banyak (Suseno, 1999).
Kasus adanya kelas sebenarnya telah ada sebelum adanya kapitalisme. Tepatnya pada masa feodalisme dimana kaum aristrokrat menguasai para budak. Setelah adanya revolusi borjuis sistem feodal diganti menjadi sistem kapitalis yang juga menimbulkan kelas yakni borjuis dan proletar.

3.Manifesto Komunis sebagai puncak dari revolusi
Pada 21 Februari 1848 diprakarsai oleh liga komunis, Marx dan Engels mengeluarkan sebuah manifesto komunis yang berisi ketetapan sebagai berikut:
1.penghapusan kepemilikan tanah dan penggunaan seluruh tanah sewa untuk kepentingan publik
2.pajak progresif yang tinggi atau pajak penghasilan berdasarkan kelas
3.penghapusan semua hak warisan
4.penyitaan pemilikan kaum emigran dan kaum pemberontak
5.sentralisasi kredit di bank negara dengan modal negara dan monopoli eksklusif
6.sentralisasi alat-alat komunikasi dan transportasi di tangan negara
7.perluasan pabrik-pabrik dan instrumen produksi yang dimiliki oleh negara; pengolah tanah yang terlantar, dan perbaikan tanah sesuai dengan suatu rencana bersama
8.kewajiban setara bagi semua orang untuk bekerja. Pmbentukan massa buruh yang bekerja keras terutama dalam sektor pertanian
9.penggabungan sektor pertanian denganindustri manufaktur, penghapusa secara bertahap semua perbedaan antara kota dan desa dengan distribusi yang lebih setara untuk segenap populasi di seluruh negeri
10.pendidikan gratis untuk demua anak sekolah umum, penghapusan pemakaian buruh anak termasuk kombinasi pendidikan dengan industri
Tujuan dari dikeluarkannya manifesto politik ini adalah untuk menguatkan pergerakan buruh dalam mencapai puncak kejayaannya yakni revolusi.

Globalisasi Ekonomi
Berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1989 dan keruntuhan Uni Soviet pada tahun 1991 berakibat pada perdebatan internasional tentang bentuk tata dunia baru. Hilangnya Uni Soviet dari kekuatan dunia dan munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan tunggal membuat banyak konspirasi bahwa nilai-nilai liberal Amerika yang luhur tentang demokrasi, individualisme, dan pasar bebas telah mendekatkan dunia menuju kepada era kesejahteraan yang belum pernah terjadi sebelumnya (Gilpin, 2000).

Terlepas dari adanya dominasi liberal Amerika Serikat, di dunia muncul berbagai negara dengan kekuatan ekonomi baru seperti Cina, India dan Asia Pasifik bahkan muncul pula aktor-aktor selain negara yang berperan dalam pasar global. Keseluruhan pandangan dunia pasca berakhirnya Perang Dingin tidak lagi memandang keamanan militer sebagai prioritas utama melainkan keamanan ekonomilah yang menjadi prioritas utama. Dunia masuk ke dalam era ekonomi-politik bukan lagi era militer-politik dimana pasar adalah pemeran utamanya bukan lagi negara-negara berdaulat.

Menurut Khor globalisasi memiliki 4 aspek penting yakni runtuhnya hambatan ekonomi nasional, meluasnya aktivitas produksi, keuangan dan perdagangan internasional berubah dengan pesat, dan berkembangnya kekuatan perusahaan transnasional serta institusi moneter internasional (Khor, 2003). Budaya ekonomi internasional lama yang didominasi dengan kegiatan impor kini berbalik menjadi budaya ekspor. Gejala-gejala ini dapat dipandang sebagai sebuah proses internasionalisasi negara-negara dunia yang mana batas-batas negara akan menjadi semakin rancu karena dunia adalah pasar secara keseluruhannya. Hambatan-hambatan yang memungkinkan dalam proses globalisasi ini akan sangat diminimalisir untuk bisa menguasai pasar.

Dibalik kebangkitan kapitalisme baru ini ternyata terdapat sisi gelap globalisasi yang mengincar: ketidakmerataan distribusi pendapatan negara. Alih-alih membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat internasional ternyata ada beberapa spekulasi tertentu terutama dari negara-negara dunia ketiga yang merasa globalisasi justru semakin meningkatkan ketidakmerataan pendapatan di dalam suatu negara, pengangguran yang tinggi, serta konsekuensi merusak perekonomian nasional akibat arus investasi yang tidak diatur (Gilpin, 2000). Kritik terhadap globalisasi pun bermunculan pasca terjadinya krisis dunia pasca tahun 1997 yang mengakibatkan korban baik negara maju maupun berkembang. Pengintegrasian dunia oleh negara-negara yang kuat dalam sisi ekonomi maupun teknologi membuat dunia ketiga masuk kedalam jurang globalisasi yang tidak dapat mereka kendalikan.

Globalisasi: suatu kritik terhadap Marxisme
Melihat fenomena runtuhnya komunisme internasional dan munculnya kambali sistem kapitalis maka dapat dengan tegas dikatakan bahwa teori Marxisme tidak terbukti dengan melihat realita bahwa momok kapitalis kembali muncul dan bahkan semakin meluas pahamnya. Marxisme pun dikatakan gagal karena pemikirannya tentang ’buruh’ dan ’tuan tanah’ hanya bertahan hingga revolusi komunis yang menyebabkan ekspansi gerakan sosialis-komunis ke seluruh dunia dan dengan sekejap muncullah negara-negara sosialis-komunis pada awal tahun 1900an.
Datangnya globalisasi yang semakin gencar menggaung pasca Perang Dingin dengan hadirnya Amerika sebagai negara adikuasa membuat kekuasaan komunis di dunia serasa tergerus oleh revolusi kapitalis (yang mirip terjadi pada revolusi borjuis dari sistem feodal menuju sistem kapitalis). Hal yang terjadi justru mengalahkan paham Marxis-Leninis dunia dimana kapitalisme globalisasi menghantui dunia hingga saat ini.
Pemikiran kritis mengenai kegagalan ini segera di tangkap oleh Antonio Gramsci, seorang penganut sosialis Marxis yang kembali merekonstruksi ideologi Marx. Menurut Gramsci munculnya globalisasi yang sangat berkebalikan dengan ramalan Marx bahwa negara sosialis akan tumbuh di seluruh dunia dan menghancurkan kapitalis Barat pasca lahirnya negara-negara komunis justru diakibatkan karena deteriminisme ekonomi Marx yang memilih proletar industri sebagai kelas yang dianggap bisa mewakili revolusi buruh. Menurut Gramsci proletar dapat menjadi tidak revolusioner karena kaum borjuis mengontrol ide kaum proletar dengan memanipulasi kesadaran sosial mereka (ini disebut dengan hegemoni pemikiran). Akibatnya dalam masyarakat liberal yang demokratis perjuangan revolusioner akan menjadi lebih lama dan melibatkan ide-ide kebudayaan daripada sekedar perjuangan ekonomi dan politik (Pozzolini, 2006).

Berdasarkan penjelasan Gramsci di atas terbukalah jawaban mengapa Marxisme tetap tidak dapat membendung masuknya kembali ideologi ekonomi kapitalis dalam era globalisasi. Lenin pun angkat bicara dan meramalkan bahwa globalisasi adalah puncak dari keruntuhan ideologi kapitalis (Woodfin, 2008).

Masuk dalam pemikiran Lenin ini, penulis mencoba menalarkan kondisi globalisasi yang tidak jauh berbeda dengan kondisi sosial ekonomi pada masa borjuis dan proletar Marx. Seperti yang sudah penulis ungkap sebelumnya adanya globalisasi ternyata membawa efek buruk pada negara kecil dan lemah yang tidak bisa mengendalikan pola globalisasi dunia karena keterbatasannya di bidang ekonomi dan teknologi. Hal ini akan membuat negara yang memiliki kekuatan kecil (dalam hal ini sering dikatakan sebagai negara berkembang atau negara dunia ketiga) akan hidup di bawah bayang-bayang negara maju. Kondisi ini sama seperti kondisi dimana negara dunia ketiga identik dengan kaum proletar sedangkan negara dunia pertama identik dengan negara maju yang umumnya adalah negara eksportir/ negara produsen. Realisasinya negara dunia ketiga hanya berfungsi sebagai pasar negara maju dimana negara dunia ketiga ’terpaksa’ untuk mengimpor komoditas negara maju. Gagasan Gramsci-Lenin kembali bermain di sini dimana menurut mereka revolusi akan terjadi pada era globalisasi ini.

Analisis di atas bisa saja benar atau salah. Menurut penulis sendiri analisis tersebut bisa saja salah dengan tetap langgengnya ideologi kapitalis di dunia ini. Hal ini penulis dasarkan dengan anggapan bahwa globalisasi tidak akan pernah terhenti dengan munculnya grup-grup ekonomi regional yang terintegrasi. Sebagaimana diketahui tujuan dari integrasi regional adalah memberikan benteng perlindungan bagi setiap negara yang turut di dalamnya untuk bersatu menghadapi globlisasi ekonomi. Terintegrasinya beberapa negara menjadi sebuah kesatuan justru akan memperkuat posisi negara tersebut. Walaupun nantinya konsep kedaulatan negara akan sedikit kacau karena integrasi membawa kepada kesatuan komunitas internasional yang penuh integrasi akan mampu menyeimbangkan posisi multipolar dunia sehingga berada pada posisi balance of power. Dalam posisi seperti ini penulis meyakini bahwa paham Post-Marxisme maupun Neo-Marxisme akan sulit untuk menembus dinding integrasi.

Kesimpulan
Dari sekian banyak penjelasan penulis hal yang dapat diambil adalah bahwa Marxisme merupakan ideologi yang pernah sangat kuat mendominasi dunia internasional sebelum akhirnya runtuh seiring dengan jatuhnya Uni Soviet. Kritikan terhadap globalisasi terhadap Marxisme yang memunculkan kembali raksasa kapitalis bisa ditangkis dengan pemahaman Gramsci dan Lenin yang memprediksikan kehancuran kapitalis (revolusi Marxis yang sebenarnya) justru akan terjadi pada era globalisasi ini. Namun demikian menurut penulis anggapan ini bisa saja salah karena globalisasi tidak mungkin dilawan. Sebagai senjatanya negara-negara justru akan berintegrasi kedalam polar-polar tertentu yang membuatnya berada pada posisi balance of power, seimbang. Globalisasi akan dapat ditangkis melalui proses integrasi ini sehingga prediksi revolusi Marxis terjadi pada masa globalisasi bisa saja salah.

DAFTAR PUSTAKA
Gilpin, Robert dan J.M. Gilpin. 2000. Tantangan Kapitalisme Global, Ekonomi Dunia Abad-21. Jakarta: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA
Khor, Martin. 2003. Globalisasi: Perangkap Negara-Negara Selatan. Yogyakarta: Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas
Pozzolini, A. 2006. Pijar-pijar Pemikiran Gramsci. Yogyakarta: Resist Book
Suseno, Franz Magnis.1999.Pemikiran Karl Marx, dari Sosalisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Woodfin, Rupert dan Oscar Zarate. 2008. Marxisme untuk Pemula. Yogyakarta: Resist book