Sabtu, 16 Februari 2008
Ada yang pernah liat film Cintapuccino yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Icha Rahmanti? Buat yang belum liat kayaknya Luke referensiin ne film buat ditonton deh! Berasa rugi kalo ga nonton film bergenre romantis ini! Walau karya aseli anak bangsa alias Made in Indonesia alur cerita Cintapuccino ga kalah hebat lo sama kisah romantisme film Titanic yang terkenal itu.
Whatz? Hari gene liat film romantis? Ga salah ta? Bukannya yang lagi ngetrend film2 bergenre horror sebangsanya Suster Ngesot, Angkerbatu, Lawangsewu ampe yang baru keluar Hantu Jembatan Ancol? Eits..jangan salah!! Film romantis ga salah seru koq dibanding sama film horror! Kalo film horror sering buat kejutan2 dengan hantu bermuka buruk yang tiba2 nongol di layar, film romantis juga bikin deg2an bahkan sering menyesakkan saat kita menanti-nanti apa yang selanjutnya terjadi dari cerita itu, tul nggak? Makanya sebenarnya sama2 seru sih (kan masing2 genre punya titik2 surprise sendiri2)!
Nah balik ke Cintapuccino, barangkali temen2 pada nanya koq sempet2nya yah aq nonton film bergenre romantis? He..he.. jangan salah tafsir en pengertian lho, semua bisa dijelaskan dengan teori (emang lagi kuliah pake teori segala!)! Aku memang seneng nonton film, masalah genrenya sih terserah asal menurutku menarik yah aku tonton. So mau laga, romantis, humor, sampe horror ga masalah buatku untuk ditonton asalkan penggarapan skenario dan jalan ceritanya baik sehingga bisa membuat alur di film mengalir secara wajar en ga dibuat en dipaksa-paksain. Sebenarnya penilaian orang terhadap bagus tidaknya jalan cerita memang lebih bersifat relatif, tetapi aq rasa akan sama jika memang ide cerita yang ditampilkan dalam film terkesan fresh dan apik.
(Sorry kalo pembicaraannya jadi melebar..soalnya orangnya juga lebar sih..he..he..)
Back lagi ke Cintapucin, peristiwa menonton film ini adalah sebuah ketidaksengajaan bagiku. Kebetulan sore ini aku sedang sendiri di kontrakan dan aku berencana meminjam film untuk menemani malamku yang sendiri (aduh sedih banget yah? Pacarnya kemana atuh bang koq ndak malam mingguan?he..). Saat sampai di rental di daftar film ‘New Release’ aku melihat ada film Cintapucin yang beberapa bulan lalu saat tengah diputar sempat menggema kemana-mana. Saat itu sih aq emang pengen nonton filmnya di bioskop tapi maklum karena nasib sebagai mahasiswa rantau tidak dapat terelakkan jadi daripada beli tiket 15rb buat nonton mending dipakai nabung. Gosip yang sempet aku denger sih Cintapucin bagus, tapi ada juga yang bilang kalo masih bagus seri novelnya daripada film aselinya. Berawal dari gossip inilah aq mutusin buat minjem CDnya.
Ga sia2 aq minjemnya, ternyata Cintapucin emang bagus. Alur cerita yang dibangun sang penulis sangat sederhana dan mudah untuk ditebak endingnya memang (biasalah kisah cinta segitiga endingnya pasti milih salah satu pasangan, entah dengan berbagai konflik sampai ada tokoh yang mati segala, atau malah tokoh utama memilih keluar dari cinta segitiga itu alias ga milih dua2nya), tetapi kerahasiaan ending seperti masih tetap terjaga di setiap sudut cerita sehingga penonton yang nebak nanti endingnya gini ato gitu jadi sempet salah tebak. Penonton serasa dijebak antara realitas bahwa Raka akan menikahi Rahmi atau Rahmi memilih cintanya yang lama bersama Nimo. Hmm..
Untuk ulasan cerita Cintapucin yang lengkap barangkali ga akan aku kasih ya (karena aku pengen temen2 nonton sendiri aja) tapi kalo sedikit bocoran sih boleh. Awalnya Rahmi (Sissy Priscilia) sangat menyukai Nimo (Miller) dan memiliki Nimo adalah obsesi Rahmi bertahun-tahun semenjak masa SMA. Lepas dari bangku kuliah Rahmi bertemu dengan pria lain yang menjadi calon suaminya yang bernama Raka (Aditya Herpavi). Obsesi lama Rahmi untuk memiliki Nimo memang masih ada tetapi kenyataan bahwa ia harus terus menjalani hidup membuat ia jatuh cinta kepada Raka. Hubungan Rahmi – Raka terjalin harmonis bahkan diceritakan akan menikah tidak lama lagi. Pada saat2 menjelang pernikahan itu tiba2 datang kembali Nimo dalam kehidupan Rahmi dan secara terang2an menyatakan bahwa Rahmi ternyata juga obsesi cintanya. Cinta segitiga pun terjadi diantra mereka, lalu siapakah yang harus dipilih Rahmi sebagai pendamping hidup? Raka tau Nimo?
Hayo pasti penasaran khan gimana endingnya..?? Makanya nonton deh Cintapucin ato baca aja novel aselinya (paling ga sampe 50rb!). O iya aku juga himbau kalo pengen nonton filmnya jangan yang bajakan yah! Ingat pembajakan itu dilarang karena melanggar UU Hak Cipta, bisa2 kena hukuman lho! Ok selamat nonton yah!
Cintapuccino..enaknya dinikmatin sambil minum Cappuccino!
